#ArlinggaNitaStory

Enam tahun lalu, di pertemuan pertama, kami sama-sama memakai kaos warna putih bertuliskan “Blogger Ngalam” tanpa saling kenal. Berdiri berdekatan tanpa saling menghiraukan.

Dua tahun berselang, di acara kopdar “Blogger Ngalam” yang kesekian, diam-diam hati kami saling melirik, menyimpan suka tanpa gerak-gerik.

Hari ini, di enam tahun setelah pertemuan pertama, kami berdiri bersisian, memakai sepasang baju warna putih berhiaskan melati. Mengikat janji sehidup semati.

Processed with VSCO with 10 preset

21 Mei 2016
#ArlinggaNitaStory

Kutunggu di Selasa dan Sabtu

Sebatang rokok yang tak lagi utuh masih terjepit di antara jari tengah dan jari telunjukku ketika aku meninggalkan Cultura, cafe tempatku biasa membunuh jenuh. Belum genap seratus langkah aku menjauh, ingatanku kembali lari ke sana.

Kuputuskan untuk kembali, dari pada mati penasaran. Tapi meja kayu yang tadi penuh dengan buku-buku tebal itu tiba-tiba saja sudah bersih, sisa-sisa makananpun tak ada. Dan kau, tentu saja sudah lenyap.
Kau ini siapa?

Entah hantu mana yang berbisik padaku agar aku duduk di tempatmu tadi duduk, lalu menelusuri setiap sudut-sudut meja. Siapa tahu ada petunjuk.
Di tengah asbak kaca, kutemukan selembar gumpalan kertas yang sengaja diremas. Itu billing makanan yang tintanya hampir tak terbaca, tapi huruf balok font empat belas di bagian paling atas tentu cukup mudah untuk dieja. “Customer name: Ardian Permana”

Kutemukan satu lagi kertas terselip di bawah asbak, rapi tanpa bekas remasan. Kubuka empat lipatan dan menemukan tulisan tangan rapi dari tinta hitam.

Dear gadis manis yang setiap selasa dan sabtu datang kemari duduk membelakangi jendela, bibirmu terlalu indah untuk sebuah batang rokok kotor dan bau. Aku mengagumi setiap apa yang ada padamu, kecuali rokok pembunuh itu.
Nanti, di Selasa dan Sabtu yang lain, aku ingin melihatmu mengenakan gincu, bukan rokok yang membuatmu terlihat pilu.
Maaf, tadi aku sengaja menumpahkan kopiku di lengan kirimu.
Boleh aku mengenalmu?

Masih tercium samar-samar aroma kopi yang kau tumpahkan di lengan kiri kemejaku satu jam yang lalu.
Kurang ajar, ternyata kau sengaja melakukannya?

****

Dear Ardian Permana,
Aku menunggumu di setiap Selasa dan Sabtu di tempat yang sama. Tentu saja tanpa rokok dan kepulan asap yang tak kau suka. Kapan kau datang lagi?

Yogyakarta, 31 Januari 2015
Nita Aprilia | @nitawanita

Untuk tantangan #30harimenulissuratcinta #poscinta

Aku Pulang di Gemericik Januari

Bila terdengar suara gemericik di bulan Januari, keluarlah. Aku ingin kita bersama menikmati hujan dari teras rumah, menyanyikan lagu kesukaan kita, lalu kamu melempariku dengan titik-titik air hujan sambil tertawa.

Bila terdengar suara gemericik di bulan Januari, keluarlah. Langit tengah mengantarkan rinduku pulang. Tapi jangan hujan-hujanan seperti waktu lalu. Karena akan terdengar lucu bila rindu membuatmu sakit flu.

Bila terdengar suara gemericik di bulan Januari, keluarlah. Nanti, sekali waktu aku ingin pulang tanpa basah kuyup, lalu kita berpeluk untuk saling merasakan degup. Bercengkrama di kamar kita yang hangat, bertukar canda hingga hari gelap.

Ini adalah surat hujan untukmu. Bila terdengar suara gemericik di bulan Januari, keluarlah. Aku rindu..

Nita Aprilia | @nitawanita

Yogyakarta, 30 Januari 2015

Jeng

Serupa reruntuhan daun yang menguning. Demikianlah hidup. Sebagian orang menginjaknya. Sebagian yang lain menulis puisi, menjadikannya inspirasi.

Hari masih terlalu pagi untuk bersedih, Jeng. Bukahkah itu yang kamu katakan padaku dulu?

Mulut mereka memang tajam, entah sehari berapa kali mereka mengasahnya. Tapi tidakkah kamu ingat, Jeng, hati kita dilapisi oleh besi yang bahkan belati setajam apapun tak mampu mengkoyaknya.

Saat mereka bilang kamu lemah, tersenyumlah. Mereka akan tahu betapa kuatnya dirimu.  Jika mereka mengatai kamu begini dan begitu, tersenyumlah lagi, tersenyum saja. Mereka hanya butuh waktu untuk mengenalmu.

Hari ini ingin kutuliskan kisah masa silam untukmu. Tentang aku yang pernah menangis di pelukanmu. Tentang kamu yang selalu ada untuk siapapun.

Aku masih sangat ingat, bagaimana kamu tersenyum tulus padaku yang masih menjadi seorang karyawan baru ketika itu. Kamu menggandengku selayaknya seorang adik, padahal kita baru saling kenal. Kamu tak menghakimiku seperti mereka yang menatapku saja tak mau. Saat kutanya mengapa kamu sangat baik padaku, kamu bilang itu karena semua orang punya alasan, termasuk aku yang pasti tak ingin sengaja berbuat salah agar dibenci. Kata-katamu itu menyejukkanku.

Kamulah orang yang paling tulus yang pernah kukenal, Jeng. Maka jangan hiraukan mereka, mereka hanya belum tahu siapa dirimu.

Jeng, hidup kita ini seperti daun-daun yang sedang bergelantungan di pohon. Angin kencang berhembus kearahku ketika itu. Aku jatuh, diinjak, lalu kamu memungutku. Dan kali ini angin kencang itu menujumu. Mungkin aku tak bisa memungutmu dengan indah seperti yang kamu lakukan dulu, tapi percayalah, kamu pasti bisa melewati ini semua.

Kamu adalah wanita baik, penyabar dan kuat, Jeng. Kamu sumber inspirasiku.

***

Untuk wanita yang selalu ku panggil Jeng. Tersenyumlah.

Yogyakarta, 6 Februari 2014

Nita Aprilia

Jangan Jadikan Rindu Ini Hujan, Aku Takut Semesta Tenggelam

Hari sudah sore.

Sama seperti sore-sore sebelumnya, dengan secangkir teh di tangan kiri, kunikmati senja dari teras rumah. Lalu kutuntun guratan-guratan langit merah itu menghilang di ujung barat sana.

Aku merasa sedang menjadi seorang induk matahari, mengantarnya pulang setiap hari. Sungguh beruntung -entah siapa- yang ada di ufuk barat sana, setiap hari matahari pulang ke pelukannya. Sementara orang yang aku tunggu sejak lama, tak kunjung kembali.

Kalau kalian bertanya padaku, serupa apa rinduku pada laki-laki itu? Akan kujawab, rinduku seperti hujan yang tumpah dari langit, tak terhingga jumlahnya. Maka jangan pernah sekalipun berpikir untuk benar-benar menyulap rinduku menjadi hujan, karena aku takut semesta akan tenggelam.

Sering aku membayangkan dia duduk di sini, di sampingku. Tangan kanannya mengangkat secangkir teh dari meja, sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan kananku.  Sejak ia menyatakan cinta puluhan bulan lalu, aku belum merasakan hangat genggamannya lagi.

Sesekali kuciumi aroma teh kesukaannya dari kepulan asap di tepian cangkir yang kugenggam. Aku sangat tahu, ia sedang melakuan hal yang sama di tempatnya duduk sekarang. Bedanya langit yang menaunginya sudah gelap lebih dulu. Dan seperti biasa, setelah senja di depanku menghilang, akan kukirimkan sebuah pesan singkat selamat tidur untuknya, dengan emoticon peluk dan cium tentu saja, seperti yang biasa ia kiriman untukku setiap aku bangun tidur.

Kubaca ulang pesanku sebelum memencet tombol send.“Di sana malam sudah larut? Di sini senja baru saja menghilang, dan aku masih menikmati seteguk terakhir tehku. Selamat tidur ya, sayang. Dapat salam hangat dari tanah kelahiranmu, juga wanita yang setia menunggumu di sini.”

Beberapa menit kemudian, telepon genggamku bergetar, tampaknya laki-laki itu belum tidur, ada pesan masuk dengan namanya.

“Aku melihatnya, secangkir teh yang kau nikmati, juga senja yang mulai menghilang.”

Dia tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku. Laki-laki yang puluhan bulan kuhujani rindu dengan deras.

“Semesta belum tenggelam kan, sayang?” katanya.

***

Untuk para pejuang jarak. Percayalah, hari indah itu akan tiba.

Yogyakarta, 5 Ferbruari 2013

Nita Aprilia

Tahukah, Bu

Bu,

Kemarin saya melihat sebuah baliho besar di jalan. Mata saya berhenti berkedip beberapa saat, saya terpaku, bukan pada gambar atau tulisan yang tercetak di sana, melainkan pada seorang wanita tua yang berdiri di depannya. Wanita tua dengan bakul kecil terikat kain kumal  yang menggantung begitu saja di lengannya.

Perempatan Jl.Pemuda sedang terik-teriknya saat itu, Bu. Sementara motor yang saya kendarai terjebak di tengah kerumunan motor lain yang sama-sama menunggu lampu hijau menyala. Saya usap-usapkan satu tangan ke lengan tangan saya yang lain, panasnya menyengat.

Bukan, saya rasa wanita tua itu bukan pengemis, Bu. Di sebelahnya ada sebuah keranjang belanjaan berisi buah pepaya. Tapi entah kenapa ia masih belum beranjak dari sana, ia berdiri saja sambil terus memperhatikan sesuatu entah apa di dalam bakulnya.

Tahukah Ibu apa isi bakul wanita tua itu?

Kepala seekor anak kucing tiba-tiba menyembul keluar dari dalamnya. Wanita tua itu membelainya saat itu juga, seolah memberi isyarat agar si kucing tidak melompat dari sana.

Tahukah Bu, bayangan ibu langsung menyelinap di kepala saya saat itu. Ibu yang sama-sama menyukai seekor kucing seperti wanita renta itu. Juga ibu yang tak bosan membelai kepala saya ketika saya lebih memilih melompat dari tempat tidur dari pada harus tidur siang di pelukan ibu.

Semoga saat ini ibu sedang tidak payah seperti yang terlihat pada raut wajah wanita tua itu. Jika ibu lelah bekerja, istirahatlah sejenak. Sekadar duduk menyantap semangkuk bakso di kantin kantor mungkin akan membuat ibu kembali bersemangat.

Bu, satu hal yang paling tidak saya sukai ketika jauh dari ibu adalah ‘waktu’. Bagaimana ‘waktu’ sangat egois, terus berjalan tanpa peduli apapun. Termasuk saya yang selalu bersedih ketika menemukan kerutan di wajah ayumu kian bertambah setelah beberapa lama kita tidak berjumpa. Saya sedih karena hanya bisa melihat perubahan demi perubahan tanpa bisa ada di sisi ibu, hingga mungkin nanti ibu akan serenta wanita tua itu.

Tapi saya janji, Bu. Saya akan selalu ingat pulang untuk ibu. Biarpun matahari di kota kita lebih terik dari matahari di sini, rumah ibu lah yang terasa paling teduh.

Tak lama, wanita tua di depan baliho itu beranjak dari tempatnya berdiri. Sementara lampu lalu-lintas di perempatan tak juga hijau. Saya mengamatinya, Bu. Ia menyeberangi jalan sambil terus mendekap bakul yang digendongnya. Wanita itu tampak tua, mungkin usianya sekitar 70-an, tapi ia sangat kuat. Ia berjalan tanpa terlihat sempoyongan sedikitpun.

Saya berharap ibu bisa sekuat wanita tua itu nantinya. Tetap sehat, bersemangat dan selalu menjadi seorang wanita penyayang kepada siapapun, tak terkecuali kepada seekor kucing yang sedang kepanasan.

***

Untuk ibuku yang usianya menginjak angka lima puluh. Biarpun anakmu tak selalu di sisimu, tapi sampai kapanpun ia akan tetap menyayangimu.

Yogyakarta, 03 Februari 2014

Nita Aprilia

Gravitasi

Suatu hari, hujan jatuh dari langit. Lalu aku bertanya pada ibu, kenapa hujan jatuh ke bumi?

Kata ibu, hujan jatuh ke bumi karena bumi punya gravitasi. Aku mengerutkan kening, saat itu ‘gravitasi’ seperti nama makhluk luar angkasa yang asing bagiku. Panjang lebar ibu menjelaskan padaku tentang apa itu gravitasi. Aku sedikit bingung, tapi kuangguk-anggukkan kepalaku.

Bumi punya gravitasi karena bumi istimewa, katanya lagi. Jika benar demikian, bangga sekali rasanya bisa tinggal di bumi yang istimewa, pikirku.

Suatu saat, kakiku tersandung sebuah batu yang terpendam separuh di tanah, lalu aku jatuh. Aku menangis kencang sampai ibuku bingung bagaimana cara membuatku diam.

“Gravitasi menyakitkan, jika kita jatuh di tempat yang salah.” kata ibu sambil mengelus-elus kepalaku yang mulai tenang.

***

Hari ini, gavitasi kembali mengantarkan hujan ke bumi, tepat dua puluh tahun setelah aku tahu apa itu ‘gravitasi’ dan bagaimana ia bekerja. Dan tiga menit yang lalu, ada sebuah gravitasi (lain) yang sangat besar menarikku kuat. Aku jatuh, kali ini tanpa tangisan yang kencang.

Sekarang aku mengerti, bahwa bumi tak hanya punya satu gravitasi, tapi dua. Ia menjatuhkanku ke tanah suatu ketika, dan menjatuhanku padamu hari ini.

Mungkin ini yang dikatakan oleh ibuku dulu. Bahwa aku telah jatuh di tempat benar, yang tidak menyakitkan.

Kepada Bagus Wiranata, bumiku. Akulah hujan yang tak pernah bosan jatuh ke arahmu.

Di derasnya hujan sore hari

Yogyakarta, 2 Februari 2014

Nita Aprilia